Diary Fara

Beranda, rokok dan bicara soal cinta.

 

     Apabila mata mulai buram, jemari terasa keram dan kecap masam, para pecandu tembakau berangsung-angsur menepi kearah sebuah beranda favorit, di lantai dua.

cigar 1

    Bentuknya persegi panjang namun sangat sempit, mirip sekali seperti gang padat pemukiman kumuh ibukota, nyaris setiap sudutnya dipenuhi asbak dan putungan rokok, pada sudut lainnya ada tumpukan sapu bahkan handuk yang bergantungan tak teratur. Yang paling mengagumkan, meski sempit, beranda ini mampu menampung 10 atau lebih karyawan yang berjajar, berhimpitan, berebut menghembuskan asap kenikmatan.

     Kali ini pria kontet hanya berdua, dengan rekan sekantornya. Mereka tidak dekat,  jarang saling bercerita atau bertukar pikiran, justru beranda dan rokoklah yang selalu menjadi penghubung utama pembicaraan singkat berkesinambungan antara mereka.

cigar 2

      Pria kontet menduduki tong sampah kecil, sibuk membumbungkan asap tinggi-tinggi, sekali hembusan seolah dapat menghanyutkan gundah peresah jiwa. Sementara perempuan kerempeng dengan kebulannya menatap kosong keatas, terpanah oleh langit mendung yang ditawarkan beranda kala itu.

“How’s life?” pria kontet membuka pembicaraan.

“Not sad, not happy. Not good, Not bad.” Balas wanita kerempeng, “kau sudah punya pacar?” lanjutnya mengorek.

“Saya bergidik, wanita ini mulai bicarakan komitmen.” Ungkapnya menyeret pembicaraan lebih dalam.

“Lalu, kenapa tidak kau beri?” Tanya perempuan kerempeng menghembuskan asap kearahnya.

cigar couple1

“Kau tahulah dimana kami bertemu. ini bukan untuk sungguhan, Dia dan saya kesepian. Bukankah malam-malam desember terlalu dingin dilewati sendirian?  Itulah mengapa kita bersama. kami saling menemani, bukan memadu kasih.”

“Lalu, ia minta berkomitmen, apa salahnya?”

“Saya tidak mau terikat, tidak ingin sesuatu yang mengikat.” Jawab pria kontet singkat.

“Lucu! kebersamaan itu mengikat. Jika tak ingin terikat, maka berjalanlah sendiri. Jangan bersama-sama.” Ungkap perempuan kerempeng, seakan mewakili hati para wanita yang mengemis komitmen pada prianya.

“Kau membuka pintu, kemudian membiarkan siapapun berlalu lalang. Tahu apa yang terburuk?”

Pria kontet diam, kemudian menantang  “apa?”

“Tidak akan ada yang tinggal. Karena kebersamaan tak melulu soal kenikmatan, kawan. Emosi dan keterikatan juga mengambil bagian.” Ujar perempuan kerempeng, sok tahu.

“Saya takut, takut jika berkomitmen dengannya maka akan menghalangi datangnya jodoh saya..” pria kontet menimpali.

“Apasih yang kau hisap? Ganja? Bicara seperti bukan kau saja.”

“Sungguh, apa ini akan menghalangi jodoh saya?” sorot mata pria kontet, menujukan keseriusan.

Tolol.

“Bisa-bisanya bicara jodoh. Harapmu mengenai jodoh dan lakumu sangat bertolak belakang. Jika menghendaki sesuatu, harapan dengan kelakuan itu harus harmoni. Itu sudah hukum!” perempuan kerempeng menghakimi.

“Jadi, saya harus bagaimana?”

Wanita kerempeng terdiam. Pria kontet membakar batang kedua. Menunggu jawaban.

***************************************

Jodoh adalah sebuah ketentuan. Yang telah diputuskan, yang telah ditetapkan. Bagaimanakah ia datang?  Mereka bilang dengan mengupayakan. Daya upaya akan menjemputnya.

pacar

Lalu Bagaimana mengupayakannya? Mereka bilang, Berkacalah!

Apa mungkin, murid dengan nilai merah semua dalam rapotnya, siap untuk naik kelas? Tidak bukan? Ia harus mengulang, belajar lagi, ujian lagi. Mengulang kelas yang sama, mengulang ujian yang sama, jika masih merah, ia akan kembali tinggal kelas. Kemudian kelas dan ujian yang sama akan berulang. Begitu seterusnya, hingga ia layak naik kelas dan pantas mendapat ujian baru dengan tingkat kesukaran yang lebih tinggi.

Apa mungkin ada jalan pintas? Tentu! Jika murid dengan nilai merah semua dalam raportnya bisa naik kelas, pasti ia menyogok.

Lalu dalam kasus ini, tahu kan siapa yang harus disogok? DIA!

Selama masih berkutat pada laku yang sama. Selama belum menaklukan ujiannya. Maka, belum layak mengecap level selanjutnya.  Kapan bisa naik level ? Mungkin secepatnya! atau Mungkin mengulang selamanya?

***************************************

“NEVER HOPE FOR IT MORE THAN YOU WORK FOR IT”

***************************************

Pria kontet tak sabar, kemudian mengulang pertanyaan, mendesak jawaban, “saya harus bagaimana?”

Perempuan kerempeng lirih berkata “saya juga tidak tahu”. Kemudian tertawa, menghembuskan asap terakhir, dan berkeluh dalam hati

“Sesungguhnya saya sama saja denganmu, tidak naik kelas soal cinta. Sialan!”

Lalu mereka berpisah,

melarutkan tanya dalam meja kerja. Kemudian lupa.

***************************************

**Teruntuk waktu kerja yang tak ditunaikan sepenuhnya, beranda yang tidak dipergunakan sepatutnya, mereka berdua pemilik nama dengan arti yang sama, membicarakan soal cinta.

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s