Diary Fara

Si Bodoh, Penebar Tawa

                                                        large

2011, Desember…

    Pada langit medung akhir desember kala itu, sebuah nama diperkenalkan pada saya. 3 huruf dengan 2 huruf vokal yang sama didepan. Nama panggilannya terdengar bodoh, tapi kelihatanya dia orang yang lembut. Tak beberapa lama kemudian, saya sadar saya telah salah sangka.

       Saya yang anak baru, ketika itu dengan santun berpamitan untuk pulang. Kemudian laki-laki ini, dengan wajah sok tahunya, berkata “Yuk, Gue anter kedepan”

           Beberapa orang diruangan itu cekikikan seolah paham apa yang akan ia perbuat. “Untuk apa berprasangka buruk, mungkin dia tipe teman baik yang punya good manner”, ucap saya dalam hati.

Sampai didepan, ia mengucapkan kalimat perpisahan “Hati-hati ya, Far”

Dengan tersenyum ceria, karena merasa telah mendapat teman baru pada hari pertama bekerja, saya membalas “makasih ya us, dadah” sambil melambaikan tangan.

   Saya terlalu polos, bukan? Sedetik kemudian, ketika kaki ini hanya tinggal selangkah menaiki kendaraan umum didepan mata, laki-laki bodoh itu berteriak…

“Faraaa… jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku… gak bisa begini, aku nggak mau putus..”

          Wajah saya panas, seluruh tatapan nanar seisi kendaraan umum hijau itu tertuju pada saya. Tidak hanya itu, para pejalan kaki sekitar juga menatap kearah kami. Seolah penasaran, ada drama apa disana? Saya seketika ingin menangis, terlampau memalukan.

Berusaha tenang, memutuskan memberanikan diri dan mencoba duduk dengan santai didalamnya , berharap laki-laki bodoh ini berhenti.

“Fara, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, hati aku milikmu…” teriakannya semakin membabi buta. Beberapa orang dalam kendaraan berusaha menahan tawa, mata supir mengintip dari spion seolah ingin melihat jelas wajah wanita yang mencapakkan kekasihnya.

“Fara, aku mohon, jangan tinggalkan aku…” teriaknya lancang dan kencang, wajahnya penuh kehancuran begitu mendalami peran. Aku tidak paham mengapa kendaraan ini tak kunjung pergi, seolah mereka semua berpihak pada lawakannya. Seorang ibu dengan jilbab miring dan alis bleberan, memberi saran “turun aja mbak, kasihan pacarnya nggak mau putus.”

Berengsek! ucap saya dalam hati dan secepat kilat turun dari kendaraan itu.

      Dengan perasaan malu yang membludak saya menampar-nampar badannya, berucap macam-macam makian kotor dan menariknya masuk kembali kedalam kantor. ingin sekali meludahi wajahnya yang malah tertawa riang penuh kemenangan.

Tahu tokoh Hanamichi Sakuragi dari slamdunk? Si bodoh penyuka basket! tepat sekali menggambarkannya.

UUS, namanya terdengar bodoh seperti seperti lakunya, seperti ucapnya.

*******************************************

       Pertemuan pertama itu membawa saya dan dia pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Entah dosa apa yang telah saya perbuat, pekerjaan ini, menyandingkan saya dan dia setiap hari minggu tengah malam hingga senin dini hari.

           Kami sama-sama anak baru kala itu, kami sama-sama harus banyak belajar. Saya sedikit ketar ketir, bagaimana mungkin saya bisa bekerja sama dengan si bodoh ini? Pasti akan melelahkan.

Setelah beberapa lama dijalani, memang sangat melelahkan! Tapi menyenangkan. Karena dia si bodoh yang sebenarnya cerdas dan penuh ide tapi tidak bisa diatur juga seenaknya sendiri.

        Pekerjaan saya mengharuskan saya membuat pola dan alur sebuah program acara radio yang kemudian akan dibawakan olehnya. Saya berusaha menciptakan, membagun pikiran pendengar bahwa dia adalah lelaki jantan, tampan dan penuh pengertian yang siap mendengarkan curahan hati para pendenger. Usaha itu gagal total.

Kebodohannya, membawa skenario yang apik menjadi lelucon dan lawakan. Semanis apapun skrip yang saya buat, akan berujung menjadi bahan candaan. Entah sudah berapa kali bos saya memanggil dan memperingatkan saya untuk mengontrol dia.

          Sampai pada akhirnya saya paham, dia terlahir sebagai penebar tawa. Mencoba memahami polanya dan sekuat tenaga saya menyuguhkan skrip atau alur tolol yang cocok dengan karakternya.

Setelah dicoba, ternyata itu pas, cocok, dan memdapatkan feedback baik dari para pendengar. Dia terlahir sebagai penebar tawa, mengapa saya memaksa menjadikannya serius? dia punya cara terbaiknya sendiri, mengapa tidak didukung?

Yang terbaik dari dalam dirinya adalah menciptakan dan menebarkan tawa, menjadikan apapun lelucon murahan atau candaan berkelas. Yang pasti, dia ingin selalu berusaha membuat orang tertawa. Itu dia.

*******************************************

        Hari demi hari, kami menjadi teman dekat, sesekali sehabis mendapat gaji ia akan mentraktir makan atau karoke (yang isinya dia sendiri yang bernyanyi sambil menari-nari tak tahu diri), kemudian beberapa kali usai bekerja dia akan mampir ke tempat saya.

Sekadar bercanda tawa dengan teman-teman saya, menggoda teman-teman wanita saya atau bermain peran, dia berperan sebagai bapak single parent pecandu alkohol dan saya sebagai anaknya yang malu mengakui sang bapak. Atau melepas peluh diatas ranjang saya yang empuk atau menghabiskan isi kulkas saya.

Kadang, ia menceritakan tentang kisah kepahlawanannya saat masih kecil atau soal the lucky virgin. Hahaha. Ia juga berbagi tentang mimpi-mimpinya, ingin menjadi penulis buku tentang lawakan cinta, menjadi pebasket karena tidak ingin menyia-nyiakan tinggi badan pemberian Tuhan, tetap berkarir menjadi penyiar radio, menjadi anak tertua yang dapat diandalkan, kemudian yang terakhir saya dengar..

ingin mencoba peruntungan lewat stand up comedy.

*******************************************

        Pernah ia meminta saya melihatnya ber-stand up di sebuah cafe di bandung, Green Cafe namanya. Saat itu, masih sangat belia karirnya dibidang ini. Rasa penasaran dan keinginan mendukung kawan saya yang bodoh ini, membuat langkah kaki sampai pada tempat itu.

Saya melihatnya mulai mengambil mic, hal pertama yang ia lakukan adalah, menyapa saya dan menjadikan saya lawakannya. kembali, saya ingin meludahi wajahnya.

Sayang, penampilannya hari itu dangkal, terlalu panjang dengan lawakannya yang tidak menarik, tidak begitu mendapat perhatian dari orang-orang yang datang. Saya sedikit sedih, saya takut ia menyerah. Tapi,  saya teringat, satu-satunya hal menarik dari si bodoh ini, ia tidak pernah menyerah.

Benar-benar orang yang lancang, tidak pernah menyerah, ingin terus hidup menghidupi mimpinya! Kemudian saya menjadi tenang, apapun makian, sindiran, cacian orang terhadapnya ia pasti akan tetap lancang, bodoh, penuh ide dan riang.

Mana mungkin orang bodoh begini bisa sedih?

Kembali, saya salah.

*******************************************

            Kali ini, saya disuguhi sisi lain darinya yang selama ini tak pernah ia tunjukan kepada saya, sisinya tanpa tawa, sisinya tanpa canda, sisinya yang begitu lemah dan nestapa.

Jika kau ingat malam-malam dimana kita berada dibawah atap yang sama, entah apa yang menimpamu hari itu. Kau seperti kerasukan.

Dengan pesan singkat itu, kau berkata malam ini akan datang menumpang. Maka kasur empuk itu, kugelar dibawah ranjang besarku. Kuberi kau bekal bermalam satu selimut tebal dan satu bantal lembut.

Hari itu kau aneh, aku bersumpah kau pasti kesurupan. Karena tawamu pendek, matamu berkaca dan bicaramu cenderung serius. 

Pada malam dimana semua keterpurukan menjadi satu, beban dibahu itu terasa sangat menyiksa. Bahkan canda yang kau lontar terdengar hambar. Mungkin tak ada yang tersadar, tapi saya tahu ini janggal.

Sebelum mata terpejam, kami melakukan pembicaraan penghatar tidur. Entah dari mana mulainya, pembicaraan ini menjadi begitu kelam.

Rupanya, kesulitan demi kesulitan datang menghimpitnya.

Malam itu, tanpa saling bertatap.

Kau berucap,

Wanita yang kau cintai meninggalkanmu. Memilih berpeluk pada pria lainnya.

Siaranmu dianggap kurang baik. Kemudian diharuskan untuk melakukan perbaikan ini dan itu

Pendidikanmu kacau. Kau harus mengulang beberapa mata kuliah.

Kemudian, ini terburuk. Orang-orang yang kau cintai, keluargamu, benar benar sedang dalam kesulitan. Benar-benar dalam titik terendah dan terparah. Seolah tak ada satupun hal baik yang tertinggal. Seolah tidak ada lagi jalan keluar.

Kau berkata semua yang kau milliki sesungguhnya bukan milikmu. Harta lari meninggalkanmu, meninggalkan derita yang tak dapat diprediksi kapan berhentinya. Sebagai anak tertua kau merasa hancur karena belum bisa diandalkan.

Kau mengkhawatirkan kehidupan keluargamu, suaramu terdengar lirih dan putus asa, kemudian tak mampu lagi menahan air mata.

Kau tahu bagaimana rasa hati saya ketika itu? Saya sangat sedih dan ketakutan. Saya ini sulung dari 3 saudara laki-laki, sungguh melihat atau mendengar laki-laki menangis adalah kelemahan saya.

Tak ada solusi yang mampu saya tawarkan kepadamu, maaf saya hanya mampu mendengar. Sejujurnya jika benar-benar diharuskan memberimu saran mungkin saya akan menyarankan untuk bunuh diri.

Bebanmu terlalu berat kawan, dia akan menjatuhkan mentalmu, melukai hatimu dan menggrogoti ragamu. Tapi aku tahu kelancanganmu untuk terus hidup terlalu tinggi, maka saya tawarkan kau bersabar. Entah sampai kapan.

 “sabar ya uus, gue harus gimana? apa yang bisa gue bantu?” kemudian tak terdengar balasan darinya. Mungkin ia masih meratap, tak sanggup membalas.

“sabar us, percaya aja.. setelah kesulitan pasti ada kemudahan.” Tidak ada balasanya darinya, yang tertinggal hanya suara….. DENGKURAN!!

Saya bangkit dan melirik kebawah. Dengan singlet putih, salah satu tangan terangkat diatas kepala, bulu ketiak kemana mana dan mulut menganga lebar. Ia tertidur pulas!

DIA TIDUR!! Emang berengsek ini orang! Bodoh dan lancang, setelah mengisahkan penderitaan hidupnya yang membuat saya ikut menangis diam-diam, kemudian dia tertidur begitu saja.

Heyyyy, saya disini masih memikirkan bagaimana ia hidup besok? Kembali, ingin rasanya meludahi wajahnya. Tapi bukankah tidur itu sebagian nikmat Tuhan untuk hati yang gundah gulana?

Kemudian, saya membiarkannya melanjutkan tidur dan berdoa tanpa bersuara, semoga dukanya segera sirna, semoga luka ini menjadi pemaksanya untuk berbuat lebih baik lagi bagi orang yang berharga, semoga doa setiap ibadahnya dan puasa senin-kamisnya membawa berkah untuknya, semoga selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan yang dihadapi si bodoh ini.

Disambut dengkurannya yang semakin kencang seolah mengamini doa saya!

*******************************************

Kesesokan paginya ia terbangun, menebar tawa seperti biasa seolah tidak punya beban apa-apa. Seolah harapan dan mimpinya sudah didepan mata.  

Saya dalam hati bertanya, dimanakah ia simpan semua beban penyesak dada? Dia memang orang lancang, bagaimana mungkin sudah ditimpa berbagai musibah dia tetap bisa seperti ini.

Dia lancang, si bodoh yang lancang untuk terus hidup dan berusaha.

          Tak lama setelah malam itu, saya tidak lagi berjumpa dengannya. Jadwal siaran kami terpisah, kemudian ia berhenti dari tempat saya bekerja tanpa berpamitan.

Tak pernah ada pesan lagi darinya, Tak pernah lagi ia datang ketempat saya dengan motor butut dan membawa sejuta tawa riangnya atau kisah kepahlawanan-nya,  tak pernah tahu lagi kabar beritanya.

          Suatu hari tanpa sengaja saya bertemu dengan nya, kami berpeluk erat melepas rindu kemudian ia berkata “gue pernah pengen mampir ketempat lo lagi far, tapi gue takut lo udah pindah” belum sempat bercakap dan bercanda, ia sudah harus pergi.

Kembali, saya tidak pernah tahu lagi kabarnya dan kami bukan tipe pertemanan yang bisa bercerita lewat pesan singkat. Beberapa kali saya dengar ia pindah dari satu tempat kerja ke tempat kerja lainnya. Beberapa orang membicarakan soal kelakuannya dan kesoktahuannya yang tak dapat diterima, kemudian membencinya.

          Untuk saya, ini bukan soal kelakuan yang tidak dapat diterima. Tetapi lebih kepada kemampuan mengerti seseorang. Saya melihat lukanya, memahami jalan pikirannya, mencoba mengerti polanya, merasakan jerih payah usahanya, dengan begitu bagaimana sanggup membencinya?

Terkadang seseorang terlalu banyak menuntut dan menghakiminya. atau memang ia yang selalu seenaknya saja. ah, sudahlah, semoga si bodoh ini selalu baik-baik saja.

*******************************************

           Belum lama ini, saya mendengar suara bodoh itu lagi, intonasi bodoh itu lagi, artikulasi, tawa dan lawakan bodoh itu lagi. Kebodohan dan kelancangan itu lagi. Tidak secara langsung, tapi melalui pesawat televisi. Sangat tidak asing.

Oh, rupanya si bodoh sudah muncul di tv. Ia tampak lebih riang dan lebih bersemangat. Orang-orang tampak mencintai dan menggilai leluconnya. Saya bersyukur, dia baik-baik saja. Namun lucunya, saya tetap ingin meludahi wajahnya.

Seorang pahlawan berjihad dalam perang, seorang ibu berjihad saat melahirkan, Maka bagi saya, kau seorang anak yang berjihad untuk keluarga.

Peluh, keringat, jerih payah dan semua yang kau hasilkan tertuju pada mereka, disanalah pintu pertolongan Tuhan terbuka. Kau teman yang bertekad baja, dengan kelancangan yang luar biasa untuk terus hidup mengabaikan penderitaan dan terus berusaha menghidupi mimpi.

Seperti nama yang dianugerahkan orang tuamu atas dirimu, kau adalah rezeki surga untuk orang-orang disekitarmu, kau terus berusaha melalui kemampuanmu menebar tawa.

Apakah kesuksesan dan kebahagiaan telah kau raih? Saya tidak pernah paham, karena setiap manusia memiliki ukuranya masing-masing atas kesuksesan dan kebahagiaan.

Satu hal yang saya yakini, kau adalah bukti nyata Perkataan Tuhan, “Dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan”

Buatlah keluargamu lebih bangga dan bahagia lagi,

Buatlah orang-orang tertawa lebih riang lagi,

Buatlah Tuhan memberi rezeki lebih banyak lagi,

Buatlah segala mimpi lebih nyata lagi,

Dan,

Jadilah pribadi yang lebih baik lagi..

Best off All, pray hardest when it is hardest to pray.

Happy birthday Uus, Allah Bless you.

Diary Fara Untuk Rizky Firdaus Wijaksana 

2015, Desember

Faragandi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s