cerpen / cinta / short story

Selamanya Cinta ♥

large (1)

Seorang wanita muda berjalan letih menuju pelabuhan akhir pelepas peluh berharap merengkuh kenyamanan didalamnya namun yang didapatinya sungguh berbanding terbalik. Untuk kesekian kalinya, rumah mungil sewaan itu seperti tak diurus. Begitu berantakkan; alat-alat gambar tergeletak sembrono, kertas-kertas berserakan dan piring sisa makanan dibiarkan menumpuk, menyebarkan bau masam. Seorang pria paruh baya tertidur diatas sofa dengan televisi yang menyala kencang, bukan gambaran baru namun kali ini sang wanita tak lagi sanggup menahan kekesalan menahun. Ia memekik membangunkan sang pria. Tak lagi terkejut, sang pria bangkit gontai, matanya tertuju pada puluhan puntung yang memenuhi asbak kemudian mencari puntung terpanjang dan membakarnya santai.

Selanjutnya rumah tersebut terbakar api amarah, menenggelamkan cinta dan kebajikkan masa lalu, menyisakan hinaan, makian juga rangkaian kata-kata kasar. Sang wanita terduduk meratap sementara sang pria bersiap meninggalkan rumah.

Bertahun-tahun mencoba menyelaraskan hati, rupanya perbedaan mereka terlalu mencolok. Malam itu perpisahan menjadi titik akhir untuk berhenti saling melukai, tidak lagi sanggup mempertahankan kebersamaan  menyakitkan, menyerah mempersalahkan lagu takdir.

***

Garis kelabu mengintip diantara langit setengah pekat. Dari gedung-gedung kebisingan para pelaku kerja menyeruak, dengan gaun hitam pas badan dan bibir merah merekah, Bian pergi meninggalkan kantornya. Seharusnya hari ini ia mampir ke toko mengurusi lay out dan tetek bengek manekin menyambut datangnya musim baru, tapi raganya begitu lelah sehingga mengelabui atasan menjadi pilihan akhirnya. Ia berlari kecil diatas sepatu berhak, map biru besar berisi sketsa pakaian dijadikannya penghadang titik hujan yang seharian datang.

Dilihat dari sudut manapun Bian selalu anggun, dari ujung kaki sampai ujung rambut ia melebihi deskripsi kata cantik. Namun ada satu hal yang kurang, matanya sendu seolah tak memiliki cahaya. Hal yang terlalu lumrah hampir satu tahun menjangkitinya, kesepian. Meski kaum adam silih berganti singgah namun sepi tak juga sirna. Sekuat-kuatnya jiwa wanita perkotaan, kesendirian tetap saja meninggalkan duka. Langkah kaki Bian tertuju pada halte kaca modern pinggir jalan yang berhadapan dengan lapangan softball. Ia akan menunggu angkutan disana sekaligus berteduh dari hujan.

Sementara itu seorang pria setengah baya sedang khusyuk menorehkan tinta keatas kertas. Menduduki bangku tembaga didalam ruangan kaca, jemarinya menari. Sesungguhnya sudah beberapa purnama dilewati Ken tanpa berkarya, hatinya yang sakit menghalanginya melukis. Kesehariannya dihabiskan merenung ditrotoar, namun hembusan angin segar membangkitkan gairah seninya petang itu. Ken serius memandang kedepan, masuk melalui jeruji besi dimana para gadis-gadis belia yang lihai melempar bola asik berlatih menghiraukan rintik. Ia menengadah mencoba menangkap gambaran langit untuk dilukisnya, ketika Bian memasukki halte seraya menepuk-nepuk basah dibahunya. Pandangan keduanya tertaut, mata Ken terbakar. Bian gemetar mencoba mengukuhkan kaki yang ingin berlari menjauh. Kedua hati terluka kembali berjumpa.

***

Tak ada celah lain, bian duduk persis disamping ken. Bukan hal yang baru berdampingan seperti ini, hanya saja kini mereka tak lagi bersama.

“Kamu nggak berubah. Kaus pudar, celana belel, dan sepatu tua. Menganggur seperti biasanya.” Ujar Bian menyakitkan, membuka pembicaraan.

“Kamu masih sama. Secantik ketika aku pertama melihatmu. Mengagumimu lalu hancur oleh lakumu.” ungkap Ken sambil membereskan barang-barang berharganya, tak lagi bergairah melukis.

“Belasan tahun aku menunggu kamu tersadar akan tanggung jawabmu.” Tertawa kecil, menyepelekan kemudian melanjutkan “Tidak pernah mungkin aku bisa bahagia bersamamu.”

“Kamu tumbuh, entah sejak kapan menjadi penggila harta. Aku bersyukur tak lagi mendengar makianmu.” Balas Ken diiringi hela nafas panjang.

“Alih-alih mengikuti hati, idealisme membuat perutmu menahan lapar. Apa yang kamu gambar? Tanggal kematianmu?” ungkap tajam Bian.

“Kamu sendiri? berupaya keras mencapai kemewahan. Selalu memandang sirik kearah permata orang lain. Entah sudah berapa pria yang kau manfaatkan.” balas Ken kejam.

“Asal kamu tahu, semua wanita dilahirkan mencintai harta. Kamu yang seperti ini akan menjalani sisa hidupmu seorang diri. Pantas semua orang meninggalkanmu”

“Sendiri selalu lebih baik daripada harus mendengar makian wanita.” Sanggah ken menutup pembicaraan keduanya.

Keduanya terdiam, hati mereka meratap bersama hujan yang tiba-tiba menjadi deras menyesali pertemuan yang telah digariskan ini. Hanya perkataan menyakitkan saja yang mampu terlontar. Gambaran pedihnya kehidupan ketika bersama mengalahkan masa-masa indah yang kelewat lampau.

***

Hujan semakin deras, bus yang ditunggu Bian tak juga tiba. Entah mengapa Ken tidak pergi beranjak, mungkin halte ini rumahnya pikir Bian saat itu. waktu terasa berjalan begitu lambat, sesekali bian melirik kearah Ken, menatap lekat-lekat pria yang masih dicintanya. Rambutnya penuh uban, kumis menjalar memenuhi setengah wajahnya, tubuhnya busuk, ransel besar digendongannya sangat kumal. Kembali Bian menahan tangis terkenang sedikit memori indah. Dahulu walaupun tidak sering, Ken mengahadiahkannya perhiasan ketika berhasil menjual karya. Sesekali ia memenuhi dapur dan kulkas dengan bahan-bahan makanan untuk sebulan penuh. Terkadang ditengah malam, mereka bersama menertawakan tontonan lawak atau membahas sandiwara politik dunia. Hati Bian melunak.

“Apa kamu nggak kangen? Aku kangen dipeluk dan dibelai.” Ungkap Bian dalam hati. “Aku pikir saat kamu pergi bebanku akan hilang tapi kenapa tiap malam aku menangis. Apa yang aku tangisi?” lirihnya tak terucap.

Ken melirik, seketika Bian memalingkan wajahnya. Ken terhanyut memandanginya, membawa kembali kisah gigih Bian memenuhi kebutuhan mereka, teringat kasihnya saat merawat raga Ken yang sakit. Teringat dan merindu. “Aku terlalu liar, banyak menyusahkanmu. Tak bisa membahagiakanmu. Tak bisa memberi kenyamanan untukmu. Tidak mampu memberimu kehidupan yang layak” Ratap Ken dalam hati.

Bian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Bisakah kamu berubah? Setidaknya jangan berantakan seperti ini. sejujurnya aku berharap kita bisa kembali bersama desah hati terdalamnya, kali ini tangis tak lagi dapat ditahannya.

Ken tertunduk menatapi jalanan yang basah, menengok kembali kesalahan peninggal sesal. Mengaku sebagai pekerja seni, namun sesungguhnya ia sadar tak satupun dari karyanya dapat menghasilkan kehidupan. Kemalasannya berakar, sedikit sekali lukisan yang dapat dirampungkannya. “Aku memang egois, hidup semauku tak memikirkanmu. Aku terlalu memalukan. Maafkan aku.. sebenarnya Aku merindukan tawa riangmu, merindukan rengekmu memintaku menlukis dirimu yang tak sekalipun kupenuhi.” Seru suara hatinya.

Pepohonan melambai-lambai tertiup kencangnya angin. Langit begitu gelap. Dinginnya membekukan kerongkongan mereka, lidah seolah kelu tak mampu berucap. Hangatnya hati tak dapat tesampaikan, sambar petir menghalanginya.

Aku ingin kau pulang kerumah.. kita sudahi semua ini… kalahkan ego tinggi mu itu, satu permintaan maaf saja.. aku akan lari kepelukanmu. Pinta hati Bian diperuntukkan kepada pria disampingnya, berharap pesan itu dapat didengar tanpa diucapkan.

“Aku bangga karena kamu mandiri. Aku bangga… seandainya aku bisa lebih baik, seandainya aku mampu, aku ingin menjadi obat dikala kamu sedih, menjadi tempatmu bertanya ketika sesat. Aku ingin kembali… mintalah sayang, mintalah aku untuk kembali… aku mohon runtuhkan harga dirimu..” kata-kata Ken tertahan dibibir, matanya pedih dan berkaca.

***

Dibalik gemuruh hujan dan guntur yang bersautan, kedua orang ini menahan sesak didada. Klakson kendaraan raksasa membangkitkan Bian dari duduknya, begitupun Ken. Wanita itu berjalan perlahan, meniti tangga bus selambat mungkin berharap kepergiannya ditahan oleh sang pria. Sebaliknya, sang pria berjalan lunglai berlawanan arah dengan wanitanya terbersit harap sang wanita meneriakkan nama dan menghentikan langkahnya. Namun tak satupun harap terkabul.

Bian menyandarkan kepalanya pada jendela bus yang berembun, menatap langit kelam kemudian menangis seada-adanya “Sehatlah selalu, hiduplah senang dengan kebebasanmu.. dengan caramu.. Kita seperti orang asing, tak mengenal satu sama lain. Tapi aku berdoa, selalu, untuk kebahagianmu. Aku sayang kamu, selamanya….

Ken berjalan tanpa menoleh, air matanya jatuh berbaur dengan hujan. “Aku begitu muda saat memilikimu. Semua wanita berlalu jengah akan kelakuanku, saat itu hanya kamu yang kupunya. Kini kau meninggalkanku juga. Bukan salahmu. Maafkan aku yang tak pernah bisa memenuhi keinginanmu. Maafkan aku, yang membuatmu mengais belas kasih orang. Aku tak cukup dewasa menjagamu, tapi aku mencintaimu.. Kini kau begitu mandiri. Kejarlah cita-citamu, jagalah dirimu baik-baik. Temukanlah pria yang benar-benar dapat kau jadikan rumah. Menjagamu kala terik menyengat atau dingin menikam, menjadi tempatmu bersandar kala duka atau cita. Baik-baiklah selalu.. Meski kini kau membenciku, Aku menyayangimu.. selamanya…

***

Meratap dibawah langit yang sama, jalan yang mereka ambil berbeda. Kendaraan pengangkut Bian melaju kencang bersama tangisnya yang tak kunjung surut. Ken terjatuh berlutut pada sisi jalan, kemudian terlungkup merasa jantungnya berdetak tak beraturan. Sepenggal potongan kisah lampaunya bersama Bian terbersit dalam benak…

“Aku mimpi burukkk sekali” ungkap seorang gadis kecil manis menangis dalam dekapan pemuda yang dipanggilnya Ayah.

“Kenapa anakku, cintaku, sayangku, gunungku? Kamu mimpi apa?” balas sang Ayah penuh kasih pada anak semata wayangnya.

“Aku mimpi Ayah diambil Tuhan..” ujarnya polos

Ayahnya tertawa, menggosoki rambut sang anak dan mencium ubun-ubunnya. “itu artinya hidup Ayah akan lama.”

Anak itu terkejut mendengar tafsiran mimpinya dari sang Ayah, kemudian bertanya penasaran “selama apa, Ayah?”

“selama kamu sayang Ayah.. selama itu, Ayah akan selalu hidup.”

“Kalau begitu umur Ayah akan panjang. Karena, Bian sayang Ayah selamanya….”

Ungkapan Bian kecil membuat Ken muda tersenyum lebar..

***END***

Advertisements

2 thoughts on “Selamanya Cinta ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s