cerpen / cinta / short story

Perempuan Pesakitan

  large

Valleri merebahkan adik semata wayangnya keatas bantalan raksasa yang nyaman, menyalakan lampu tidur dengan pendar merah redup dan mengucapkan selamat malam sebagai balasan terima kasih yang dilontarkan Soraya. Langkahnya gontai namun ia tahu tak akan ada yang menawarkannya bersandar, merangkaki dinding-dinding emas hasil kerja keras adiknya adalah tumpuan terakhir menjaga raganya agar tidak terjatuh. Jalannya terhenti, ia dan wanita tua itu terlibat pembicaran singkat yang dalam. Aku menghela nafas menyakini mood-nya akan sepekat malam ini. Valleri perempuan pesakitan. Penyakitnya membusuk, lukanya menganga meninggalkan duka. Jangan bicarakan penyembuhkan ketika setiap kata-kata manusia diamininya sebagai sebuah hantaman penghancur jiwa.

Valleri menghempas tas kesukaannya, isinya tumpah ruah. sesungguhnya sejuta gadis rela mati demi mendapatkan barang berharga itu. ia terduduk menerawang dan melantur. Hembusan asap kenikmatan menyeruak melalui jendela kayu besar yang dibiarkannya terbuka lebar.

“Sejak kapan kau merokok?” tanyaku kebingungan.

“Sejak hari ini. ketika tangisan tak lagi mampu mengobati derita, hanya melalui batang-batang ini kusalurkan sengsara didada.” Lirihnya pilu kemudian menyeka noda-noda kesedihan dipipi.

“Kau sudah cukup terluka oleh langit kehidupanmu, istirahatlah.” pintaku perlahan.

“Aku benci orang tuaku. Sorotan mata itu, pancaran merendahkan. Melihatku tidak pernah lebih baik dari Soraya.” Desahnya penuh kebencian sambil kembali membumbung tinggikan asap-asap melalui bibir merahnya. “Dan aku mengutuk Soraya atas semua hal yang menimpaku”

Aku menatapnya, menyerengitkan dahi “Kau tidak boleh begitu kepada saudaramu”

“Adikku menghidupi seluruh mimpiku. Merampasnya picik. Dunia ini kejam, Keindahan selalu ingin dibaginya kepada Soraya. Pencapaiannya selalu melebihi diriku, semua orang mempersepsinya sebagai ulung diantara wanita. Kau tau bintang akan bersinar dilangit yang kelam. Akulah langit kelam itu, membantunya terus bersinar. Menelan pil pahit bulat-bulat.” Keluhnya menakutkan.

Tidak, pikirku. Kau tidak menelannya bulat-bulat. Kau mengunyah perlahan pil-pil itu menyisakan pahit yang membuatmu tak dapat lagi menikmati rasa sedap. Kau mencari derajat dunia, sebesar apapun berusaha kesempatan selalu datang untuk Soraya. Soraya adalah bintang, sinarnya tersohor dinegri ini. Nyanyiannya mampu melepas dahaga, mendung tersenyum hanya dengan memandangannya dan kagum selalu mengelilinginya. Mereka menyebut keelokannya paling berseri diantara mutiara lainnya. Dibalik itu Valleri mendengki. Iri menggenggam jiwa, cemas dan ambisi ditempanya menjadikan setiap malam senyap sebagai waktu terbaik mengungkap rahasia didada kemudian mengutuk. Memperluas celah luka manganganya, bernanah anyir, kerusakkannya kian dalam.

“Kau tidak kalah cemerlang dari adikmu itu. kau adalah pembicara yang hebat. hidupilah kelebihanmu, relakanlah Soraya dengan segala kelebihan dan pencapaiannya.” Pintaku penuh harap pada Valleri yang kusayang.

“Tidak! Mimpiku adalah semua yang Soraya miliki.” Air mata kembali jatuh mengiringi ucapan paraunya. Kemudian menirukan apik kata-kata menyayat dari hawa yang melahirkannya, “Valleri, keluarga Anthony datang membuka perkenalan, menyatakan ketulusan, dan mengarah keseriusan. Tentu saja kami berbahagia, namun sesungguhnya membayangkan kau dilangkahi membuat bulu kudukku berdiri. Carilah pasangan anakku, sebelum gunjingan merusak nafsu makanmu.”

“Sudahlah Vall, dengarkan aku kali ini. Kau bersedih karena sesuatu yang tiada berguna. Cintai yang kau miliki dan kembalilah berbinar.”

Kau tahu dalam budaya keluarga kami begitu tabu saudara tertua dilangkahi oleh adiknya. Usiaku sepertiga abad, sudah berkali-kali orangtuaku mengingatkanku untuk menikah. Seolah itu adalah simbol kemandirian, seolah beban terangkat ketika melihat darah dagingnya dipelaminan, seolah keberhasilan menjadi orangtua dipamerkan melalui pernikahan anaknya. Selama aku sendiri, mungkin aku hanya akan menjadi beban. lebih tepatnya aib keluarga.” Sebutnya muram.

Aku berbisik “Well, itu kultur keluargamu, bukan kulturmu. Aku rasa kau harus tenang…” Valleri seketika memotong,

“Aku tak mau tenang! Aku mau menang! Aku harus menikah, tiada lagi sanggup mendengar gunjingan. Aku anak pertama, maka aku lah yang akan menikah terlebih dahulu. Kali ini,  Soraya harus kalah.” Kilat dimatanya memancarkan kesungguhan.

“Jangan kau jadikan ikatan sakral itu persaingan. Ayolah Vall, akhiri semua ini. jangan menjadi pesakitan seumur hidupmu!.” Pintaku menggebu.

Ia hanya terdiam tak ingin meluluskan pintaku. Angin malam mendera, dinginnya menjadikan jiwa perempuan pesakitan ini membeku. Tanpa berganti atau menghapus topeng wajahnya, ia meluruhkan raga mungil dan menarik selimut sampai menenggelamkan ubun-ubun. Melanjutkan ratapan dibaliknya.

Malam memudar, kuputuskan berdoa.

“Wahai duapertiga malam sunyi dimana pintu surga terbuka bagi yang memanjatkan, kuperuntukan kepada kau pencipta semesta yang menjadikan setiap makhluknya berpasangan. Temukanlah sang perempuan pesakitan pada hati penuh cinta, menjadikan kerinduannya pada golongan adam sebuah pelabuhan pengobat luka.”

***

Petang semakin uzur, burung-burung menyanyikan lagu penyambut gelap. Gedung ini menyongsong langit, dari puncaknya kau bisa melihat kemerlap lampu ibu kota seakan sedang berdiri diantara bintang. Pandangan mereka tertaut dan jemari mereka terikat. Kusaksikan bola matanya penuh gairah, tergila-gila. Cinta yang memabukkan Romeo dan Julliet, menyeretnya terlalu dalam untuk segera mematenkan rasa kepemilikkan.

“Aku mencitaimu” Bisiknya lembut. Pangeran impian dideskripsikan untuknya. Dia tinggi tampan, lembut, mapan, berkedudukkan, dan penuh kasih sayang.

Sang Putri hanya tersenyum, aku bersumpah senyumannya mengambarkan seakan ia dapat hidup seribu tahun lagi. Jemari lentiknya menggapai lingkaran gelas kaca berisi  red wine, memainkannya kemudian meneguknya dan bertanya ragu “Kenapa kau mencintaiku?”

“Aku tak tau.”  Balas pangeran.

“Tidak tahu?”  sang putri makin ragu.

“Ketika kau begitu mencintai seseorang, kau tak perlu menemukan alasannnya.”

Ujung-ujung bibir putri merekah, ia berkata singkat “Lucu”

“Aku tidak pernah puas menghabiskan waktu bersamamu. Kaulah yang ingin kulihat dipagi ketika mata ini terbuka dan dimalam sebelum mata ini terpejam.” Ungkap pangeran penuh hayat.

“Aku tidak butuh cinta singkat”. Pancing putri cantik itu.

“Aku tahu. Akupun begitu.” kemudian pangeran berlutut, mengeluarkan sebuah simbol sebagai perwakilan rasa cintanya yang memuncak.

Aku tersentak, tersadar telah terhanyut. “Tidak-tidakk Valleri, tidaakkk!”

***

Valleri akan menikah. Aku tahu ini hanya kebohongan, sadarlah perempuanku. Ini bukan cinta. Rangka mu akan busuk dimakan jaman, Jiwamu akan tersiksa. Kau tergopoh merangkak mencari kemuliaan, aku jemu melihatnya. Harga dirimu tak ditentukan oleh pencapaian. Hentikanlah ini peringatku kepada Valleri.

“Aku tidak sedang mabuk! kami jatuh cinta dan akan menikah. Kau lihat, gaun ini? bukankah begitu cocok untukku?” ia berdiri didepan kaca, melenggak lenggok memandangi gaun putih mewah yang dikenakannya. “Soraya menginginkan gaun ini, Akulah yang terlebih dulu memakainya.”

Kau sungguh sudah gila Vall. Kau menjadikan saudara mudamu rival dan kini kau gadaikan dirimu untuk sesuatu yang semu. Kegilaanmu telah melewati batas kewajaran,” teriakku pada Valleri berusaha memanusiakan perempuan pesakitan. “Kau hanya memperkeruh kenyataan, melelehkan kebajikkan dan memperkuat kerumitan. Aku mohon dengarkan aku Vall.” Desakku padanya.

“Terlambat! Orang tuaku suka cita menyambut ini. Kali ini aku menang dari Soraya. Ikutlah berbahagia untukku, mana ucapan selamatmu?” Tagihnya padaku seraya menunjukkan jemari berlingkar emas putih.

***

Aku berjalan diatas paparan kayu diantara rerumputan, menyusuri lorong berlangit lampion putih dan disampingku berjejer rapi vas-vas permata tinggi dipenuhi Lily. Valleri menganggap ini pesta pernikahannya, tapi aku melihatnya sebagai kebohongan. Tidak lebih dari kepura-puraan. Ia terhanyut dalam kenyataan fana.

Ratusan orang berpakaian kristal berkumpul ditaman luas, larut dalam romantisme. Putri cantik berjalan langkah demi langkah berdampingan dengan raja tua yang dipanggilnya ayah. Dibelakangnya ratu beserta seluruh isi kerajaan dengan rapi berbaris menghantar jalannya. Petang gerimis membuat upacara pembukaan makin syahdu. Putri terhenti pada sebuah lahan yang dikelilingi obor-obor berpita putih. Raja menyeret anak gadisnya ketengah lahan kemudian berdansa seolah itu dansa terakhir mereka. Tak lama berselang, sesosok pangeran tampan datang menghampiri, menunduk dan menjemput tangan Putri, merampasnya dari dekapan sang Raja. Lantunan piano mengiringi tarian mereka.

“Aku mencintaimu hari ini, esok, dan selamanya” ungkap pangeran bertuxedo yakin.

“selamanya tidak cukup menunjukkan cintaku padamu” balas putri cantik itu lebih yakin.

Pandangan berkaca-kaca penuh haru dan riuh tepuk tangan mengiringi mempelai berbahagia itu ke panggung pelaminan megah. Kerumunan berdesakkan menghantar selamat, ketika Valleri berlari tak pasti. Rautnya terguncang, sorot matanya setajam belati menyadari bahwa Ini adalah pernikahan Soraya.

***

Untukmu jiwa pengeluh, bagaimana kau menikmati keindahan ketika keirian mengaburkan matamu. Didalam ruang ganti ini, tersembunyi dari pesta malam yang manis, kau tersadar dan kembali mempertanyaan kalimat usang itu.

“Kenapa? Kenapa Soraya? seharusnya aku. AKU!” pekiknya memekakan telinga, menghantam semua benda mati dihadapannya “Aku, aku seharusnya yang ada disana. Anthony sudah melamarku dipuncak gedung dan itu gaun pengantinku, ini adalah pernikahanku. Mengapa Soraya yang berdiri disana.”

“Tidak pernah ada yang melamarmu. Kau dan aku melihatnya, terhanyut, saat Anthony melamar Soraya. Kau menyakini kenyataan milik saudaramu adalah milikmu. Kau menghidupi kenyataan miliknya, Seolah kalian adalah raga dan ruh yang menyatu.” Debatku padanya.

Tidak mungkin! mengapa aku tidak pernah sekalipun mengalahkannya? Mengapa? Sebesar apapun usahaku, mengapa aku tak pernah bisa melampauinya?”  tanyanya diiringi tangisan yang pecah dalam keterasingan.

“Kau memenangkan iri dan ambisi atas dirimu. Engkau menjadikan khayal sebuah kenyataan. Alih-alih menutupi luka, prikiran memanipulasi dirimu. Kau tuli saat diseru, tidak pernah mendengarkanku.”

Kemudian Valleri kaku, tak menangis tak juga riang. Ia bangkit dengan wajah berantakkan dan berlari kencang menembus keramaian. Dihadapan orang-orang terkasih sebilah pisau tajam menghujam jantung Soraya sebagai tebusan lukanya jiwa saudara tertua. Dengan pisau yang sama, Valleri mencabut sendiri ruh kehidupannya tepat setelah mengadili Soraya. Mereka tergeletak berdampingan seolah menyongsong waktu tidur seperti saat mereka belia. Tidur selamanya.

***

Pada zaman yang tak pernah tua, dibalik malam ceria yang berubah mencekam, mari kita bercerita tentang kisah perempuan pesakitan. Demi hidupmu.. Kau merintih menahan sakitnya tarikan kematian, sementara Aku menangisi ruh yang akan pergi abadi. Kau, Aku adalah satu pada kematian hidup dan kehidupan mati. Sebelum hembusan terakhir ini, maaf kuhanturkan tak bisa menjadi gemintang petunjuk jalan malammu. Tak bisa mengobati sakitmu. Tak mampu menghalangi jahatnya pikirmu. Maafankanlah Aku ..Valleri…, Tak bisa menjadi sebaik-baiknya isi hati untukmu.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s